Урок 28.2

Урок 28

Текст 2

Antara Tanah Abang dan Cipulir

Keberadaan Pasar Tanah Abang yang hampir melegenda, belakangan nyaris pudar oleh munculnya pusat grosir yang baru di kawasan selatan Jakarta. Padahal, sampai lima tahun lalu, Pasar Tanah Abang adalah primadona. Bahkan, banyak pedagang dari 27 propinsi pernah menginjakkan kaki di sana untuk kulakan berbagai barang dagangan, terutama pakaian jadi. Pedagang dari Malaysia dan India juga mengambil barang di Pasar Tanah Abang.

Kini Pasar Tanah Abang yang luas arealnya tiga hektar dan terdiri atas lima blok mendapat pesaing baru, yakni Pasar Cipulir. Dapat dimengerti jika warga yang bisanya terkonsentrasi di Pasar Tanah Abang kini terpecah. Ada yang lebih memilih Cipulir karena faktor jarak maupun faktor harga. Yang pasti, apa yang dijual di Tanah Abang juga di Cipulir.

Bagi pembeli pun, "Pasar Cipulir nggak ada bedanya dengan Tanah Abang. Malah lebih bersih, tidak seperti Tanah Abang yang semrawut dan pengap," ujar Wowo (37), warga Mampang yang sudah mengalihkan perhatian dari Pasar Tanah Abang ke Cipulir.

Walaupun Pasar Tanah Abang tidak lagi menjadi primadona, bukan berarti pasar ini kehilangan pembeli. Lebih-lebih 10 hari menjelang Lebaran ini. Menuju Pasar Tanah Abang merupakan perjuangan  tersendiri  karena kadar kemacetan sudah melampaui batas. "Hari-hari biasa saja sudah luar biasa, apalagi  sekarang ini," sambung Lina, karyawati di bilangan Jl.Sudirman yang memilih untuk tidak berbelanja ke Tanah Abang. "Yanag harus hati-hati lagi, di sana banyak copetnya. Memang harganya sih miring. Tapi kalau kecopetan?"

Walaupun demikian, menurut para pedagang, tahun ini terjadi kemerosotan penjualan yang sangat berarti di pasar Tanah Abang. Jumlahnya tidak bisa ditentukan persis. Akan tetapi, pedagan semacam Abdul Aziz yang sudah 15 tahun berdagang pakaian jadi anak-anak merasakan betul pukulan itu. "Mungkin karena pedagang makin banyak, sehingga penghasilan mesti dibagi," katanya. Kemungkinan lain, barangkali, ya munculnya Cipulir dan berbagai pusat perdagangan grosir lain yang lebih baru dan harganya pun tak kalah murah dari Pasar Tanah Abang.

Yang mungkin khas dari Tanah Abang adalah pedagang kaki lima yang menyemut di pinggir jalan sehingga menambah kemacetan lalu-lintas dan kesemrawutan jalan. "Kalau nggak macet, ya bukan Tanah Abang,"  kata Taufik, pedagang kaki lima yang mangkal di sekitar Pasar Tanah Abang. Bagi dia, ketidakmacetan jalan menuju ke Pasar Tanah Abang malah aneh. "Rasanya ada yang hilang."

Kemacetan yang sama sebenarnya sudah terjadi di Cipulir. Pedagang kaki lima mulai bermunculan di kawasan itu. "Tapi, di sini masih lebih aman," ujar Dian, warga Pertukangan.

 

Yang jelas, di pusat-pusat grosir yang sifatnya masih jauh lebih tradisional dibanding Pusat Grosir Mangga Dua, orang masih merasakan kehangatan hubungan antara pedagang dan konsumen. Masih ada tawar-menawar tanpa harus merasa sungkan. "Kalau beli hadiah Lebaran di sini harganya bisa miring jauh dibanding di Mangga Dua. Mungkin memang di sini kurang nyaman. Tapi, kalau mau cari harga murah, di sini tempatnya," ujar Mbak Yayuk, pedagang dari Yogya, yang belakangan ini mulai mencoba berbelanja di Cipulir.

 

Словарь

aneh странный, необычный
copet карманник
grosir оптовый рынок
konsumen потребитель
kulakan скупать (для перепродажи)
malah даже, наоборот, напротив
mangkal стоять (в определ.месте)
melampaui превосходить (что-либо)
menginjak наступить на что-либо
merosot падать, снижаться
miring наклонный, склоняться
nggak нет (tidak)
nyaman бодрый, приятный, здоровый
nyaris почти
pengap душный, зловонный
persis точно, ровно, точный
pesaing конкурент
pudar тусклый, блёкнуть
sambung продолжил, дополнил
semrawut неупорядоченный
sih усил. же, ведь, уст. -то
sungkan стесняться

 

Упражнения

 

Упражнение 1.

Isilah titik-titik di bawah ini dengan sebuah kata yang terdapat di dalam kotak berikut.

kulakan

menyemut

sungkan

kemerosotan

pudar

pesaing

kadar

menyemut

semrawut

1.    Keberadaan Pasar Tanah Abang hampir ……..dengan mun-culnya pusat grosir baru di Jakarta Selatan.

2.    Pedagang menginjakkan kaki ke pasar Tanah Abang untuk .… …..berbagai barang dagangan.

3.    Pasar Cipulir merupakan …….. bagi Pasar Tanah Abang.

4.    Warga Mampang mengalihkan perhatiannya dari Pasar Tanah Abang ke Pasar Cipulir, karena Pasar Tanah Abang …….. dan pengap.

5.    Menurut para pedagang di Pasar Tanah Abang, tahun ini terjadi ……. Penjualan yang sangat berarti.

6.    Pedagang kaki lima yang …….. di pinggir jalan menyebabkan kemacetan lalu-lintas di Tanah Abang.

7.    Di pasar tradisional pembeli dapat tawar-menawar barang tanpa merasa ……. .

8.    …….… kemacetan lalu-lintas di Pasar Tanah Abang sudah melampaui batas.

 

Упражнение 2.

Ответьте на вопросы.

Mengapa Pasar Tanah Abang tidak lagi menjadi primadona? Apa perbedaan antara Pasar Tanah Abang dan Pasar Cipulir? Mengapa pendapatan pedagang di Pasar Tanah Abang berku-rang? Apakah ada perbedaan mutu barang yang dijual di Pasar Tanah Abang dan di Pasar Cipulir? Mengapa terjadi kemerosotan penjualan di Pasar Tanah Abang? Mengapa pasar tradisional masih tetap disenangi orang? Mengapa banyak orang berbelanja di Pasar Tanah Abang? Apakah perbedaan antara pusat grosir dan pasar tradisional? Di mana Anda lebih senang berbelanja? Apakah pusat grosir selalu menyebabkan kemacetan lalu-lintas?

 

Упражнение 3.

Переведите на русский язык.

Pedagang kaki lima adalah pedagang dengan modal kecil yang tidak mempunyai tempat khusus untuk berjualan. Mereka disebut pedagang kaki lima karena biasanya mereka membawa gerobak beroda dua dengan sebuah penyangga berkaki satu. Gerobak dan penyangganya dianggap mempunyai tiga kaki. Dua kaki lainnya adalah kaki pedagang itu sendiri.

 

Упражнение 4.

Переведите на индонезийский язык.

Приятная обстановка в нашем отеле сделает ваш отпуск при-ятным. Я почти ничего не вижу на этом рисунке, краски сов-сем выцвели. Именно здесь мы расстались пять минут тому назад. Этот странный летающий объект приземлился на краю леса. Количество посетителей музея снизилось по сравнению с прошедшим месяцем. Перед тем как затонуть, корабль накренился на левый борт. Не бери много денег на оптовый рынок, там много карманников. Не ходите по траве, много-кратно напоминал сопровождающий нас садовник. На практике, конкуренция не приводит к снижению цен, наобо-рот, создает благоприятную обстановку для рыночной мафии. Это уже переходит все границы! Многие неупорядоченные и зловонные рынки на обочине дороги являются причиной про-бок на дорогах.

 

Упражнение 5.

Переведите на русский язык.

Aku dilahirkan di Desa Sajen, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Solo, tanggal 14 Juli 1962, sebagai anak keempat dari enam bersaudara. Ayahku hanyalah buruh kecil dan ibuku peda-gang kecil di pasar. Kendati Klaten dikenal sebagai daerah subur, tetapi desaku boleh kusebut sebagai desa tertinggal. Di zamanku masih sedikit anak-anak yang lulus SMP, apalagi SMA. Anak-anak perempuan di desaku banyak yang tidak tamat SD, sementara anak laki-laki kebanyakan setamat SD langsung bekerja sebagai buruh tani atau bekerja di tempat lain.

Sejak kecil aku memang sudah bercita-cita menjadi sarjana. Kupikir, kalau aku tidak bisa mencapai pendidikan tinggi, nasibku akan sama dengan kakak-kakakku dan juga mayoritas pemuda di desaku. Akan tetapi, bagaimana akau bisa sekolah tinggi kalau aku tidak punya cukup uang?

Waktu demi waktu terus berlalu dan aku lulus madrasah dengan susah payah karena tidak ada biaya. Aku sadar aku tidak bisa melanjutkan ke sekolah menengah kalau aku hanya mengandalkan orangtuaku.  Ketika aku masuk SMP Muhammadiah X Trucuk, aku menjadi buruh di sawah atau bekerja serabutan di rumah orang.  Penghasilanku tentu saja tidak seberapa. Akan tetapi, untunglah pihak pimpinan sekolah cukup bijaksana dan memberikan banyak keringanan kepadaku, sampai akhirnya aku lulus SMP tahun 1984.

Aku bangga sekali. Semangatku untuk tetap melanjutkan sekolah terus menggebu, tetapi apa daya biaya tak ada. Kalau aku hanyabekerja serabutan seperti saat masih di SMP, penghasilanku tentu tidak akan mencukupi untuk biaya belajar di SMA.

Apa boleh buat, akhirnya aku harus menerima kenyataan pahit itu, akau harus berhenti sekolah. Kebetulan pamanku datang. Ia seorang pengusaha mebel yang cukup sukses di Wonogiri. Dia mengajakku untuk tinggak di perusahaannya. Lama kelamaan aku menjadi tukang kayu yang terampil membuat meja, kursi, lemari, dan sebagainya. Aku bekerja tak kenal lelah, lebih-lebih setelah aku mendapatkan upah dari hasil kerjaan itu. Sejak itu aku bertekad untuk bekerja lebih keras lagi agar bisa mendapatkan uang sebanyak-banyaknya.

Tanpa terasa, waktu setahun hampir berlalu dan ini berarti hampir setahun aku libur sekolah. Akan tetapi, tekadku untuk melanjutkan sekolah masih tetap keras dan aku rasa sekaranglah waktunya untuk kembali ke bangku sekolah. Selain tabunganku sudah cukup banyak, aku sudah mempunyai keahlian lain.

Tahun itu pula aku pulang ke kampung dan mendaftarkan diri di SMA Muhammadiyah VI. Sambil belajar aku mengembangkan keahlianku, yaitu membuat mebel. Dari hasilnya, aku dapat membiayai sekolahku dan sekolah kedua adikku. Tahun 1988 aku berhasil menyelesaikan SMA. Seperti cita-citaku sejak kanak-kanak, aku ingin jadi insinyur. Walaupun aku tidak dapat mengharapkan biaya dari kedua orangtuaku, aku tidak merasa khawatir. Aku masih mempunyai tabungan dan kebetulan selesai sekolah, aku mendapatkan tawaran untuk membuat meja dan kursi untuk sebuah sekolah di Klaten. Tahun itu merupakan tahun kedua aku terpaksa harus "libur" sekolah.

Dengan uang hasil pekerjaanku itu aku dapat menabung, membantu kebutuhan kedua orangtuaku, dan membeli seekor sapi yang kemudian dipelihara ayahku. Akan tetapi, aku tidak melupakan tujuan utamaku, yaitu kuliah di perguruan tinggi dan menjadi seorang sarjana. Setelah gagal mengikuti Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru), aku mencoba berburu perguruan tinggi swasta yang paling murah di Yogya.

Akhirnya  kuputuskan  masuk Fakultas Teknik Sipil Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (UCY), karena biayanya relatif murah. Tabunganku selama setahun jadi tukang kayu hanya cukup untuk biaya masuk kuliah, makan untuk satu-dua bulan, dan membayar pondokan. Akan tetapi, bagaimana nanti selanjutnya? Aku mulai memutar otak untuk mencari penghasilan baru. Semula, aku ingin menjadi tukang kayu, tetapi di Yogyakarta banyak perusahaan mebel dengan relasi yang lebih besar. Untuk menjadi penjual sayuran dan buah-buahan pun tidak mungkin, karena aku kekurangan modal.

Dalam keadaan bingung, aku mulai menelusuri kota Yogya dan tiba-tiba saja perhatianku tertuju pada tukang becak yang sedang mangkal di pinggir jalan. Mereka duduk dengan santai sambil bercanda dan bermain domino. Pemandangan itu sangat menarik perhatiannku. Kemudian terlintas dalam benakku, "Kalau saya kuliah sambil "narik" becak, bagaimana ya? Sambil "narik" becak aku tentunya masih bisa belajar di atas becak". Akan tetapi, sanggupkah aku? Secara fisik, aku yakin aku sanggup, tetapi secara mental? Orang masih menganggap tukang becak sebagai kelas bawah dan mereka juga masih sering mengaitkannya dengan pelacuran dan perjudian, meski kecil-kecilan. Sanggupkah aku menepis semua itu?

Apa boleh buat, inilah jalan yang paling memungkinkan yang harus kutempuh dan yang paling kecil risikonya. Hari itu juga kubeli sebuah becak milik teman ayahku. Setelah shalat magrib, kukayuh becak ke jalan raya. Di hari-hari pertama aku agak rikuh, karena aku takut dipergoki oleh teman-teman kuliah. Bagaimana pun aku belum siap kalau ada yang memperolokku sebagai tukang becak. Modalku benar-benar hanya tekad.

Ketika ada penumpang pertama yang menghampiriku, aku tersipu-sipu, karena tidak tahu tempat tujuannya. Aku tidak berani memasang harga. Perjalanan pertamaku ini ternyata tidak sukses. Selain caraku mengemudikan belum terampil, becak yang kugunakan ternyata tidak bagus. Akan tetapi, lama kelamaanaku terbiasa dengan pekerjaanku ini. Dari uang penghasilanku menarik becak, aku dapat membiayai kuliah dan kehidipanku sehari-hari.

Syukurlah aku tetap dapat belajar dengan baik. Bahkan, ketika aku memasuki tahun keempat, aku acapkali diminta para dosen untuk menjadi asisten mereka. Masa-masa sulitku mulai berkurang ketika di tahun 1992 aku berhasil mendapat beasiswa Supersemar. Setelah berjuang sekian lamanya, akhirnya yang kucita-citakan  pun berhasil.  Yang  lebih  membahagiakanku lagi, aku berhasil lulus paling cepat dan paling baik di kampusku. Dari semua rekan setingkatku, hanya akulah yang berhasil diwisuda tahun ini. Ketika kedua orangtuaku hadir di saat aku diwisuda, sulit rasanya aku menyembunyikan titik-titik air mataku. Awan dan kabut hitam telah berlalu. Setelah betahun-tahun bergelut dengan otot dan keringat, kini sudah saatnya aku menyampaikan selamat tinggal pada becakku tersayang! Selamat tinggal masa-masa tersulit dalam hidup!

Теги